Venerabilis Eustratius si Pembuat Mukjizat (Abad ke-9)
Ia lahir dari orang tua yang saleh di Tarsia, Bitinia. Pada usia dua puluh tahun, ia memasuki kehidupan membiara di Biara Agaures yang terletak di dekat rumahnya. Di sana, ia menjadi teladan dalam doa, asketisme (penyangkalan diri), dan semangat demi kekudusan — ia tidak memiliki apa pun kecuali jubah yang dikenakannya, bahkan tidak memiliki sel (kamar) sendiri, dan lebih memilih untuk tidur di atas tanah yang keras. Saat tidur, ia tidak akan berbaring telentang atau miring ke kiri, melainkan selalu miring ke sisi kanannya. Di gereja, ia berdiri sambil terus mengulang doa 'Tuhan, kasihanilah kami!' di dalam hati sepanjang ibadah berlangsung. Ia kemudian ditahbiskan menjadi imam, dan seiring berjalannya waktu diangkat menjadi abas (kepala biara) bagi komunitas tersebut.
Namun tepat pada waktu itu, Leo si Orang Armenia menjadi Kaisar dan menghidupkan kembali ajaran sesat Ikonoklasme. Para rahib Agaures, yang berpegang teguh pada iman Ortodoks, berpencar ke gua-gua dan hutan untuk melarikan diri dari penganiayaan. Eustratius sendiri sempat dipenjara, dan baru bisa mengumpulkan kembali komunitasnya serta melanjutkan kepemimpinannya ketika Leo wafat dan ajaran Ortodoks dipulihkan pada tahun 842.
Sebagai abas, Eustratius terus hidup sebagai yang paling rendah hati di antara saudara-saudaranya, menghabiskan siang hari dengan ikut serta dalam kerja tangan, dan sebagian besar malamnya dalam doa serta sujud syukur (prostrasi). Ia sering melakukan perjalanan di antara biara-biara cabangnya yang besar untuk memberikan nasihat dan semangat kepada para saudara rahib.
Dalam perjalanannya, ia sering memberikan jubahnya atau bahkan kudanya kepada siapa pun yang ia temui yang sedang membutuhkan. Pernah suatu ketika, ia memberikan satu-satunya lembu milik biara kepada seorang petani yang telah kehilangan lembunya sendiri. Sekali waktu, dalam kunjungan ke Konstantinopel, ia diberi sejumlah besar uang oleh Kaisar untuk kepentingan biara; namun dalam perjalanan pulang, ia membagikan seluruh uang tersebut kepada orang miskin.
Pernah pula di jalan, ia bertemu dengan seorang pria yang berputus asa karena dosa-dosanya dan hendak menggantung diri. Sang Santo memegang tangan pria itu dan berkata, "Anakku, biarlah beban dosa-dosamu terletak padaku mulai sekarang. Pada Hari Penghakiman, aku yang akan menjawab (mempertanggungjawabkannya) menggantikanmu. Buanglah tali ini dan berharaplah kepada Tuhan."
Selama masa hidupnya, Santo Eustratius melakukan mukjizat yang tak terhitung jumlahnya melalui doa-doanya: menyembuhkan yang sakit, memadamkan api, dan membangkitkan orang mati. Ia wafat dengan damai di Konstantinopel pada usia sembilan puluh lima tahun, setelah menghabiskan tujuh puluh lima tahun dalam kehidupan membiara.
Semoga syafaat dari para kudus hari ini menguatkan perjalananmu menuju Kristus.
---
Marchell Evangelistic Ministries
Komentar
Posting Komentar